JUBIRTVNEWS.COM – Tanggal 20 April 2026 berpotensi menjadi penanda babak baru bagi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Sukabumi. Musyawarah Cabang (Muscab) ke-10 yang akan digelar di Lido Resort, Bogor, bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan momentum penentuan arah baru partai untuk lima tahun ke depan.
Pergantian kepemimpinan tak pernah berdiri di ruang kosong. Ia selalu membawa harapan, sekaligus beban. Dalam konteks PPP Sukabumi, beban itu tak kecil. Kepemimpinan almarhum Dedi Damhudie meninggalkan jejak yang nyata: peningkatan kursi legislatif dari 4 menjadi 5 di DPRD Kabupaten Sukabumi periode 2024–2029. Sebuah capaian yang mungkin terlihat sederhana, namun dalam peta politik lokal yang kompetitif, itu adalah langkah maju.
Tak hanya itu, keputusan strategis PPP untuk bergabung dalam koalisi pemenang pada Pilkada 2024 turut mengantarkan pasangan Asep Japar – Andreas ke kursi kepemimpinan daerah. Artinya, PPP tetap berada dalam orbit kekuasaan, sebuah posisi yang tidak semua partai mampu pertahankan secara konsisten.
Kini, tongkat estafet itu akan berpindah. Nama Andri Hidayana mencuat sebagai kandidat terkuat nahkoda baru. Rekam jejaknya sebagai anggota DPRD dua periode, ditambah kepercayaan sebagai Plt Ketua DPC PPP pasca wafatnya Dedi Damhudie pada Februari 2025, menjadi modal politik yang tidak bisa diabaikan.
Namun, tantangan terbesar justru datang dari dalam: ekspektasi kader.
Dalam pra-Muscab Maret 2026 di Ciemas, muncul sebuah target yang berani, bahkan terkesan nekat: 14 kursi DPRD pada Pemilu 2029. Tagline “Naik Kelas” digaungkan sebagai semangat perubahan. Tapi publik tahu, ini bukan sekadar target biasa. Ini adalah apa yang bisa disebut sebagai mission impossible.
Mengapa demikian? Karena sepanjang sejarah Pemilu di Kabupaten Sukabumi, belum pernah ada satu pun partai politik yang mampu menembus angka tersebut. Rekor tertinggi hingga kini masih dipegang oleh Partai Golongan Karya dengan 10 kursi pada 2024.
Lebih dari itu, capaian tersebut bukan hasil instan. Ia dibangun melalui proses panjang, termasuk keberhasilan menempatkan kadernya sebagai kepala daerah selama dua periode. Konsolidasi kekuasaan eksekutif inilah yang kemudian berkontribusi pada penguatan posisi legislatif.
Realitas di lapangan pun tidak sesederhana slogan “naik kelas”. Kabupaten Sukabumi terbagi dalam enam daerah pemilihan (dapil). Dalam praktik selama ini, belum pernah ada satu pun partai yang mampu menempatkan dua kursi di setiap dapil secara merata. Pola yang terjadi justru sebaliknya: perolehan dua kursi biasanya hanya terkonsentrasi di dapil-dapil tertentu yang menjadi basis kuat partai tersebut.
Di titik ini, target 14 kursi menjadi semakin berat jika ditarik ke dalam simulasi konkret. Untuk mencapai angka tersebut, secara matematis PPP setidaknya harus mengamankan minimal dua kursi di seluruh enam dapil (total 12 kursi), lalu menambah dua kursi lagi, baik dari dua dapil berbeda atau bahkan dengan menembus tiga kursi dalam satu dapil.
Masalahnya, skenario seperti itu belum pernah terjadi dalam sejarah Pemilu di Kabupaten Sukabumi. Bahkan partai dengan perolehan kursi tertinggi sekalipun belum mampu menciptakan distribusi kekuatan yang merata di semua dapil, apalagi hingga menembus tiga kursi dalam satu dapil.
Artinya, tantangan PPP bukan hanya soal menambah suara, tetapi membangun pemerataan kekuatan politik di seluruh wilayah dapil—sesuatu yang jauh lebih kompleks daripada sekadar meningkatkan total perolehan suara.
Di sinilah letak “mission impossible” itu menjadi nyata. Target 14 kursi bukan hanya soal ambisi besar, tetapi juga menuntut perubahan pola kerja politik yang selama ini belum pernah terbukti berhasil di Sukabumi.
Bisa jadi, target tersebut hanyalah slogan untuk membakar semangat kader. Namun bisa juga, ia merupakan hasil kalkulasi politik yang matang, meski penuh risiko.
Satu hal yang pasti, siapa pun yang terpilih sebagai ketua baru PPP Kabupaten Sukabumi, akan memikul beban ekspektasi yang jauh lebih berat dibanding pendahulunya. Karena dalam politik, harapan yang tinggi selalu berjalan beriringan dengan potensi kekecewaan yang besar.
PPP kini berada di persimpangan: bertahan sebagai pemain menengah yang stabil, atau mengambil lompatan besar dengan segala konsekuensinya.
Dan dari Muscab inilah, arah itu akan ditentukan.
Oleh: Muhammad Ridwan Purdawan, S.HI
Direktur Jubir Media Grup





