Beranda / Opini / Enny Arrow, Pembelajaran Kewaspadaan & Kreativitas

Enny Arrow, Pembelajaran Kewaspadaan & Kreativitas

Traktir Kopi

Oleh: Aat Suwanto, Pemerhati Sosio-Humaniora

 

 

 

Yang pernah membacanya pasti akan langsung bertanya-tanya, benarkah soal yang itu –yang dulu buku fiksi stensilannya kita baca secara sembunyi-sembunyi?!

Penyebabnya, karena isinya semuanya melulu porno dan bahkan fulgar. Melebihi keerotisan dari novel Freddy S., Nick Carter, atau novel yang di balut cerita horror karya Abdullah Harahap — novel-novel, meski tak sampai sembunyi-sembunyi namun masih malu-malu apabila di baca secara terbuka.

Untuk Enny Arrow tadi, untuk sekedar dapat membaca saja perjuangannya begitu berat. Mungkin melebihi perjuangan untuk membaca buku-buku kiri di jaman orde lama yang waktu itu sangat dilarang juga. Bila buku-buku kiri persoalannya hanya perkara hukum, sementara cerita karya Si Enny Errow ini yang harus dihadapinya sanksi sosial juga.

Baca Juga :  Anak Butuh Perlindungan Nyata Bukan Seremoni, POPDIKSI Pertanyakan Kinerjan BSAN Sukabumi

Padahal, kemudian waktu saya ketahui, si aparat itu pun sebenarnya ada yang ternyata menjadi pembaca aktif si buku Enny Arrow ini. Konon dia bahkan rekatif lebih terang-terangan membacanya –di kantor sambil piket katanya.  Sudah itu Enny Arrow yang di bacanya gratis pula karena itu hasil rampasan dari yang ketahuan.

Saking harus berhati-hatinya, ada seorang ustad yang hampir dapat malu karena istrinya mendapati buku stensilan itu di tersempil di salah satu kitabnya sewaktu dia mau mengajarkan isi kitab dimaksud ke para santrinya. Rupanya Si Ustad lupa, waktu masih jadi santri di pesantren dia pernah buku tersebut diantara kitab-kitabnya.

Mungkin karena waktu itu konten-konten pornografi masih terbatas keberadaannya. Bukan tak ada, namun majalah Playboy misalnya, benar-benar sangat mahal harganya. Itu pun barangnya terbatas dan sulit di dapat. Di sisi lain, cerita pornografi seringkali mengundang imajinasi liar tersendiri, terutama bagi kami yang diperiode tersebut baru beranjak remaja. Saking liarnya, bagaimana kita membayangkan apa yang di lakukan si lakon di cerita, sebenarnya melebihi apa yang di ceritakan. Hingga tak jarang sampai tak terasa ada yang basah di celana.

Baca Juga :  Konvergensi Program Gizi dan MBG: Kunci Serius Menekan Stunting

Tapi di sanalah mungkin, dari sederet pengalaman masa kecil kami yang ada, melalui pengalaman kami bergelut dengan Enny Arrow, secara tak sadar waktu itu kita tengah diajari bagaimana konteks tentang kehati-hatian dan kewaspadaan. Saking hati-hati dan waspadanya, kita acapkali menaruh curiga bahkan untuk hal yang padahal sudah biasa di sekitar kita.

Baca Juga :  Sekolah Aman Hanya di Atas Kertas? Rentetan Kasus Anak di Sukabumi Menuntut Evaluasi Menyeluruh

Kita bahkan sudah diajari untuk berimajinasi kondisi imajinasi yang paling ekstrim karena perkara yang di imajinasikan di buku Enny Arrow adalah perkara yang secara sosial dan moral sebagai perkara paling tabu. Tak mengherankan, jika kreativitas kita saat ini melebihi kreativitas Masyarakat lainnya. Begitu kreatifnya kita, barang yang benar-benar rongsok pun bisa diberdayakan kembali. Bukan sekedar kulkas atau mobil rongsok –pengalaman membuktikan menata kembali kapal perang sekalipun kita mampu.

Begitulah, meskipun kemudian kita pun jadi terbiasa pula untuk selalu bermuka dan bermulut manis dalam menghadapi segala keadaan. Dan seringkali masih menganggap sebagai ketidaksopanan atau bahkan perlawanan atas sikap blakblakan dan keterusterangan anak-anak di masa kita kemudian.

Semarang, 1 Sept 2026

Traktir Kopi
Tag: