Beranda / Opini / Pendidikan Jelas Pekerjaan Gak Jelas

Pendidikan Jelas Pekerjaan Gak Jelas

Traktir Kopi

Oleh: Aat Suwanto, Pemerhati Sosio-Humaniora

 

 

 

Saya tidak akan membicarakan para pendidik terdidik, terutama yang berpredikat sarjana, yang sampai hari ini, karena banyak faktor –para ahli sudah banyak membahasnya, belum juga mendapatkan pekerjaan.

Yang saya ingin bicarakan saat ini adalah mereka yang sudah bekerja, tapi tidak karuan pekerjaannya dengan latar belakang keahliannya yang, barangkali anda salah satunya.
Kenyataannya, banyak sarjana pertanian atau fisika menjadi teller bank, sarjana pendidikan menjadi staf keuangan di salah pabrik, dan seterusnya.

Ada juga, seorang sarjana agama yang juga lulusan pesantren lumayan ternama, karena disuruh oleh keluarga untuk ikut tes CPNS, eh… loloslah dia. Bahkan kini, setelah bertahun-tahun jadi staf di kecamatan, dari sekedar staf biasa hingga sekmat, jadilah kemudian dia seorang camat saat ini. Camat teladan pula dirinya!

Mereka yang memang mendapatkan peluang kerja nya disana. Jadi bukan karena terpaksa. Tapi karena memang peluangnya di sana. Yang kebetulan gajinya lumayan menjanjikan.

Ada juga yang karena memang terpaksa. Ke sana kemari cari lowongan kerja, hanya mendapat yang ditanganinya saat ini. Ya, di tekunilah demi dapat melanjutkan hidup. Dengan satu harapan, suatu waktu mungkin ada rejeki yang lebih baik.

Baca Juga :  Lapang Merdeka Sukabumi yang “Belum Merdeka”

Asa yang menyala ini yang terus mereka jaga demi agar optimisme untuk mendapatkan hari esok lebih bahagia. Bahkan ketika kenyataan di depan mata, kondisi ekonomi negara tak juga memberi tanda ke arah sana.

Ada juga karena persoalan fashion, katanya. Seperti para pelaku stand up komedi, rasanya tak ada dari mereka yang latar belakang pendidikannya seni, khususnya seni teater.

Seorang teman, di Cicantayan, konon sebenarnya dia itu seorang calon dokter. Namun waktu lagi koas, berhentilah dia, karena memang fashion awalnya sebenarnya tidak di situ. Itu dilakukan, karena tadinya sekedar menuruti keinginan orang tua, dan merasa jadi dokter bakal enak. Tapi di otomotif.

Maka kemudian dia pun pada akhirnya banting stir menjadi dokter kendaraan roda empat. Melihat gayanya saat ini, tak akan tampaklah dia seorang mantan mahasiswa dokter. Tapi bagi yang tahu, sekedar untuk sakit ringan, tanyalah dia obatnya apa, demi agar kita tak usah mengeluarkan uang ke dokter.

Baca Juga :  Sekolah Aman Hanya di Atas Kertas? Rentetan Kasus Anak di Sukabumi Menuntut Evaluasi Menyeluruh

Dulu, ada yang mempersoalkan persoalan diatas sebagai pemerkosaan terhadap idealisme pendidikan yang telah menjadi pilihannya. Sekarang tidak lagi. Alih-alih, justru dianggap sebagai sebuah kewajaran apalagi ketika alasan yang dikemukakannya adalah bahwa perut ga bisa kompromi.

Saya sendiri tidak mau mempersoalkan itu. Hanya saja ada yang kita lupakan, bahwa sesungguhnya kuliah itu tujuan utamanya bukan untuk ke soal pekerjaan.

Tujuan utama pendidikan adalah untuk membangun kesadaran sehingga kemudian kita menjadi manusia bijak, baik sana atau sini. Si pencari kebijakan ini kemudian dinamakan Mahasiswa, setelah dianggap bisa menjadi manusia bijak barulah dia diwisuda menjadi sarjana.

Penjurusan sendiri, dalam pemahaman saya terkait beberapa hal. Bahwa sains, sebagai hasil dari pencariannya untuk menemukan kebenaran baru, akan selalu berkembang. Sementara manusia, dalam ruang entitas kemanusiannya, selalu punya minat dan cara tertentu untuk memantik minatnya dalam menemukan kebenaran itu. Sementara dari sisi lingkungan, persoalan pun bukannya mereda, tapi terus berkembang dalam bentuk persoalan-persoalan baru

Baca Juga :  SMPT NU Pujja Yanpa’una Sukabumi Gelar Tasyakuran Perpisahan, Tampilkan Karya Siswa Sesuai Arahan KDM

Disanalah kemudian sebuah penjurusan dibangun. Adapun bila kemudian minat mereka berkembang, sah-sah saja jika kemudian dirinya belajar tentang materi lain.

Itu kemudian, mengapa ada yang tadinya sarjana matematika, justru lebih ahli di bidang yang lain. Begitu seterusnya. Dengan bekal minat, keahlian, plus kesadaran diri dan kondisi dinamis persoalan di lingkungannya, diharapkan para sarjana ini bisa berkontribusi untuk ikut menyelesaikannya.

Persoalannya kemudian, kenapa kerusakan lingkungan di jagat buana ini terjadi kian masif. Kenapa demokrasi bernegara makin gak karu-karuan. Kenapa pula kondisi sosial, ekonomi, hingga moral di masyarakat yang kian semrawut.

Kondisi demikian, menurut saya, hal diatas pasti tidak akan terjadi tanpa adanya campur tangan dari para orang pintar ini. Jadi yang harus menyelesaikannya pun mereka. Para sarjana tadi, termasuk di dalamnya para mualim (istilah saya untuk para sarjana lulusan pesantren yang dalam strata sosial diposisikan sebagai guru masyarakat –pen) yang, karena keterbatasan pengetahuan saya soal itu, tidak ikut saya ajak serta untuk dibahas sejak awal.

Cag!

11 Agustus 2026

Traktir Kopi
Tag: