Oleh: Aat Suwanto, Pemerhati Sosio-Humaniora
Sama sekali saya tidak akan pernah meragukan kecintaan anda semua kepada negeri ini. Bahkan juga semesta raya ini.
Persoalannya, kita terlalu bernapsu untuk menyelesaikan hal-hal besar yang keberadaannya jauh melampaui jangkauan kita.
Sementara persoalan dihadapan kita sendiri, karena dianggap tidak bernilai dan memiliki dampak besar, kita abaikan.
Selama ini kita selalu senang dengan persoalan-persoalan besar. Kita selalu antusias ketika membicarakan persoalan politik negara hingga dunia.
Isu-isu seperti persoalan kebakaran hutan di tanah Kalimantan hingga kemungkinan pemakzulan presiden dan wakilnya, selalu saja menarik perhatian kita. Apalagi ketika kemudian kita diajak untuk turun ke jalan untuk ikut menyuarakan Bela Palestina.
Ya. Kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan memang memprihatinkan. Bukan hanya karena dampaknya yang lintas negara sehingga sangat memalukan negeri kita. Persoalan rutin tahunan ini, seolah menegaskan bahwa kita sebagai bangsa tak mau belajar dari setiap kejadian.
Persoalan isu pemakzulan presiden dan wakilnya sendiri memang terkait persoalan kebangsaan yang sangat serius untuk negeri ini, meskipun buat saya bukan sesuatu yang istimewa. Kita belum lagi menemukan bentuk demokrasi yang benar-benar pas buat kita.
Apalagi soal pendidikan yang masyarakat dapat pun, sampai saat ini belum benar-benar mamadai untuk itu. Jika boleh meminjam perkataan Tan Malaka, salah satu pendiri bangsa ini, masyarakat kita baru siap untuk merebut kemerdekaan, tapi belum bisa untuk mengisinya.
Palestina pun saudara kita, terlepas dari sentiment keagamaan yang seringkali menjadi alasan yang melatarbelakangi pembelaan kita. Apalagi realitanya, tak semua warga Palestina sebagai muslim meski kedudukannya minoritas seperti di kita. Persoalan kemanusiaan, dari mana pun asalnya, apapun warna kulit dan bahasa ibunya, juga agamanya, tetap harus kita junjung keadilan untuk mereka.
Jadi sama sekali tidak ada yang salah apabila kita sangat peduli dengan isu-isu besar seperti di atas. Dan saya pun sama sekali tidak akan pernah menyalahkannya. Namun kita pun harus bisa berbagi kepedulian untuk hal lain. Mungkin persoalannya lebih sederhana –lebih kecil, namun keberadaannya ada di sekeliling kita. Bahkan mungkin termasuk kita sendiri yang menjadi penyintas dari persoalan dimaksud.
Misalkan, mari kita untuk bisa menengok selokan dengan gorong-gorongnya dan aliran sungai di dekat rumah kita. Jangan sampai di sana ada onggokan sampah yang nanti akan menghambat aliran sungai. Apalagi yang berada di pinggir jalan, sebab rusaknya jalan salah satu penyebabnya adalah karena soal membludaknya air dari selokan ke jalan tadi.
Tak usah kita berfikir dulu soal melakukan penghijauan di hutan-hutan, cukup kita bisa menanam barang satu atau dua pohon di halaman rumah kita demi ketika hujan pohon-pohon itu bisa turut menyerap air hujan selain agar hujan tak langsung menetes ke tanah. Saya percaya, apa yang kita perbuat ini sedikit banyak bisa menghambat bahaya banjir di wilayah kita.
Tak perlulah anda mencari rumusan, bagaimana untuk mengurangi beban utang negara. Cukup anda untuk mau menanam beberapa pohon cabai di halaman rumah, apalagi dengan tanaman sayuran lainnya, agar kemudian tidak segala hal kebutuhan dapur harus kita beli, sebenarnya itu pun sudah sebagai cara yang sangat berguna untuk kita menolong menstabilkan keuangan negara.
Artinya, meskipun tampak sederhana, sebetulnya apabila dilaksanakan secara kolektif oleh kita semua, sebenarnya dampaknya pun akan tetap besar.
Saya sendiri sangat percaya, lebih baik kita melakukan sesuatu yang sederhana, bahkan mungkin tidak dianggap bernilai oleh orang lain, tapi melakukannya secara sungguh-sungguh dan tuntas, itu jauh lebih bermanfaat, alih-alih sesuatu yang besar namun tak pernah tuntas diselesaikan.
Bahkan persoalan besar negara bahkan dunia ini pun akan bisa kita tuntaskan asal mau memulainya dari hal-hal sederhana yang ada di hadapan kita.
Bdo, 17 Sept 2026













