Oleh: Aat Suwanto, Pemerhati Sosio-Humaniora
Keracunan santri yang terjadi tempo hari, ternyata telah membuat seorang teman yang saya tahu pernah mesantren cukup lama tergelitik mengomentari. Salah satunya komentar yang membuat saya sendiri akhirnya ikut tergelitik juga. Meskipun saya tahu, komentar tersebut sebetulnya sekedar bercanda.
Konon, kejadian tersebut sebagai dampak dari perilaku santri sekarang yang sudah tidak kenal Kastrol dan ngaliwet lagi. Berganti dengan catering sediaan pengurus pesantren atau beli makan di warung makan di sekitar pesantren.
Kehidupan anak santri dulu bisa dikatakan sangat memprihatinkan. Mereka seringkali makan seadanya. Ada nasi saja, tanpa lauk, sudah untung. Untuk sekedar membersamainya dengan kepala ikan asin saja sebagai lauknya, itu sudah sebagai keistimewaan luar biasa. Maklum, anak santri dulu kebanyakan berasal dari keluarga paspasan, bahkan banyak yang berasal dari keluarga yang tidak mampu. Jangan heran jika masuk pesantren dulu kebanyakan gratis – alias tidak dipungut sepersen apapun oleh pengasuhnya. Sebaliknya, seringkali bahkan Pak Kyai lah yang harus membiayai sebagian besar kehidupan pesantren.
Tak jarang, kepala ikan asin itu pun bisa hingga berhari-hari tak pernah habis, karena yang dilakukan ketika makan hanya menetelkan nasi ke kepalanya agar nasi itu beraroma ikan asin. Apalagi yang memakannya bukan satu-dua orang. Tapi hingga 15 bahkan 20 orang yang terbagi ke dalam 2 kobong yang ukuran perkobongnya tak lebih dari 3 atau 4 ke 5 meter saja. Dan saking terlalu seringnya si kepala ikan terkena tetelan nasi, aroma asinnya akhirnya bisa sampai habis tak tersisa. Padahal si kepala ikan asinnya masih utuh.
Pernah, pada satu peristiwa ada satu telur hasil pemberian ibu kyai. Demi bisa agar telur itu terbagi oleh semua santri yang ada di kobong tadi, di campurlah telur tersebut dengan garam yang sangat banyak. Hasilnya, bisa di bayangkan. Bagaimana akhirnya rasanya telur tadi. Jangankan aroma telurnya, yang tersisa hanyalah rasa asin garamnya tadi. Namun karena saking asinnya, kita pun pada akhirnya mengambil telur itu hanya sedikit-sedikit.
Di sini pula alasan kenapa kemudian santri jadi jago ngaliwet. Dan kenapa pula sampai nasi liwet itu harus berkerak. Bukan perkara bahwa santri itu waktunya sangat terbatas karena tersita oleh tugas utama mereka untuk belajar. Ini soal perkara keterbatasan uang juga.
Ngaliwet itu cara membuat nasi paling sederhana, sekaligus efektif dan efisien dalam mengelola kan bumbu dan lauk yang serba terbatas. Dengan ngaliwet, modal garam saja sudah beres. Sebagai penambah aroma, bumbu-bumbu yang tersedia di kebun pak kyai semacam sereh, yang memang seolah disediakan untuk mengolah nasi liwet, bisa langsung di campur dan mendapat dampak instan untuk menambah aroma nasi dan selera makan.
Adapun harus sampai berkerak, itu semacam cara mengawetkan nasi liwet agar bisa lebih awet di simpan. Dan ketika dimakan lagi bisa tetap enak karena keringnya nasi liwet tadi, termasuk gosong nya pun dapat memberikan aroma tersendiri untuk yang akan memakannya.
Nasi kerak itu pun bisa tersimpan hingga lewat 24 jam, bahkan bisa sampai 2 hari. Perkara steril tidaknya, jangan di tanya. Sebagaimana jangan ditanya juga bergizi tidaknya. Pokok utama pemikiran waktu itu adalah perkara bertahan hidup. Tidak sampai perut kelaparan. Cukup!
Dan memang, kebanyakan santri tidak mendapat dampak negatif dari laku yang dari sudut pandang kesehatan tentunya dipertanyakan. Kalau pun ada yang sakit, tidak sampai massal. Paling 1-2 orang. Itu pun tidak parah. Dibiarkan sendiri, seringkali sembuh juga. Kalau pun di obat, paling obat-obat kampung semacam daun-daunan.
Atau sekedar obat murah yang ada di warung. Apabila sakitnya dianggap parah, alih-alih ke puskesmas apalagi rumah sakit, datang ke pa kyai, minta air hasil doanya. Mungkin karena sugesti dengan keyakinan yang tinggi terhadap kesucian hati dan pikiran guru mereka, sembuh juga si santri yang sakit tadi.
Tak hanya dari soal makan saja sebenarnya. Yang jelas, kebanyakan santri jaman dulu seringkali dipaksa untuk menjalani laku prihatin dalam segala hal: tidur ditempat alakadarnya, berpakaian asal bersih dan bisa menutupi aurat, … itu saja prioritasnya.
Anehnya, untuk memiliki sebuah kitab, mereka selalu memaksakan diri. Tak jarang, uang bekal yang pas-pasan dari orang tua pun dia gadaikan. Tentu saja hal itu kemudian harus membuat dirinya bisa menahan lapar hingga bekal orang tua yang datangnya tak menentu itu didapatnya lagi.
Saya sendiri tak ingin lebih berpanjang lagi menceritakan cerita heroik dari perjuangan santri jaman dulu. Apalagi saya sendiri berkeyakinan, setiap masa pasti ada para pelakunya dengan cerita hidupnya masing-masing. Saya hanya ingin, jangan sampai akibat keserakahan kita, justru generasi penerus kita yang mendapat getahnya, tidak hanya saat ini malah hingga kemudian hari.
Sulanjana Coffe-Sukabumi, 8 September 2026






