Beranda / Opini / Udar Diri

Udar Diri

Traktir Kopi

Oleh: Aat Suwanto, Pemerhati Sosio-Humaniora

 

 

Hampir 10 tahun saya mencoba mengenali Sukabumi, khususnya Palabuhanratu dan sekitarnya. Selama itu, saya telah menggali dan mempelajari banyak hal, meski itu sebenarnya bukan bidang keahlian saya.

Misalkan saja, saya mempelajari karakter fisik dari masyarakat Palabuhanratu yang relatif cukup beragam, dari bermata bulat hingga sangat sipit, dari kulit hitam hingga kuning dan putih relatif bule, dengan hidung yang mancung hingga lebar dan (maaf) pesek, serta rambut lurus hingga ikal rumit laiknya orang Indonesia bagian timur.

Saking penasarannya, saya pernah menanyai seseorang yang berwajah unik tadi yang, jika diukur dari ciri-ciri fisik, menurut saya, seharusnya bukan orang Palabuhan yang seharusnya orang Sunda.

Terhadap yang mirip orang timur, saya bahkan sampai beberapa kali menanyakan asal usul dia hingga yakin kalau dia memang lahir dan besar di Palabuhanratu, bahkan dari nenek moyangnya semula.

Baca Juga :  Polemik Aturan Pemilu. PC IMM Sukabumi Raya Sebut Adanya Pembangkangan Hukum oleh DPR RI

Tidak sampai di situ, ketika saya sudah diyakinkan bahwa mereka memang sudah sebagai warga native Palabuanratu sejak mula jauh-jauh generasi, meskipun tidak sampai mendalam, saya pun menelusuri jejak-jejak sejarah sosial-budaya hingga arkeologisnya. Hingga kemudian saya tahu, bahwa konon dahulu Palabuhanratu pernah diduduki oleh komunitas Suku Bajo.

Di situs Cengkuk, saya bahkan menemukan fakta lebih mencengangkan dengan ditemukannya jejak peninggalan-peninggalan arkeologis dari benda-benda logam, tembikar hingga pecahan porselen. Hal ini menandakan bahwa Palabuhanratu tidak hidup pada satu jaman dan dalam satu kuasa kehidupan satu etnis saja.

Namun ada satu rasa kepenasaran yang sampai tahun 2024 belum saya dapatkan jawabannya. Kenapa Palabuanratu bisa sampai diminati banyak warga. Bahkan kemudian menjadi destinasi wisata, tidak hanya saat ini, tapi sudah sejak lama sekali –bahkan sejak jaman kolonial (dalam banyak keterangan bahkan sejak jaman kerajaan Sunda berdiri –pen).

Baca Juga :  Sampah dan Manusia

Hingga pada satu waktu, ketika saya diminta untuk mendampingi tamu Pemda Kabupaten Sukabumi yang konon di undang untuk berinvestasi, secar tak sengaja saya mendapatkan salah satu jawabannya.

“Aduh! Benar ini mah. Nyesel gua. Kenapa ga ke Palabuhan sejak dulu. Kalau saja gua tau udaranya begini?”

Saya dapati bahwa mereka memang mendapat rasa penyesalan yang sangat karena mereka keburu berinvestasi duluan di daerah lain, padahal daerah seperti Palabuan lah yang mereka cari.
Terdorong oleh rasa penasaran, saya pun bertanya, apa yang lebih dari udara Palabuhanratu.

Baca Juga :  Pastikan Aman dan Layak, Disperkim Sukabumi Survei Calon Lahan Relokasi Warga Terdampak Bencana di Palabuhanratu

Menurut saya, Palabuhanratu tak lebih seperti wilayah pesisir lainnya dengan hawanya yang sangat panas.

Ternyata jawabannya sederhana sekali. Namun begitu, sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya.

Kelembaban Palabuhanratu, menurut mereka, ternyata sangat bagus. Hingga Palabuhanratu bisa dinikmati kapan pun, termasuk di siang hari ketika matahari tengah terik-teriknya. Sedangkan di daerah lainnya, siang hari sulit untuk dinikmati karena akan membuat kulit menjadi kering.

Dari sana pula, saya pun semakin tersadar akan satu hal penting. Bahwa ilmu pengetahuan dan pengalaman akan menjadi perpaduan yang sempurna untuk menangkap hal kecil yang oleh kebanyakan orang sebagai hal yang benar-benar biasa dan sama sekali tak istimewa.

6 Agustus 2025

Traktir Kopi
Tag: