JUBIRTVNEWS.COM — Jalan menuju Kampung Pasirmuncang, Desa Sagaranten, Kecamatan Sagaranten, Kabupaten Sukabumi, seolah menjadi gambaran bagaimana warga di pelosok masih bertahan di tengah keterbatasan. Berjarak sekitar tiga kilometer dari akses utama, perjalanan menuju permukiman tersebut harus melewati medan rusak dan curam.
Kondisi itu dirasakan langsung rombongan Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Muhammadiyah (LAZISMU) Jawa Barat ketika menyalurkan bantuan, Rabu (19/8/2026). Kendaraan yang membawa perlengkapan tidak dapat mencapai lokasi lantaran jalur dinilai membahayakan. Petugas akhirnya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sambil memikul bantuan sejauh kurang lebih 400 meter.
“Kondisi jalan memang sempat menghambat dan harus dibawa dengan jalan sekitar 400 meteran,” tutur Manajer Area atau Program LAZISMU Jawa Barat, Sani Sonjaya.
Tujuan perjalanan itu bukan sekadar mengantarkan bantuan. LAZISMU Jabar membawa 10 paket perlengkapan pemulasaraan jenazah serta satu keranda mayat baru bagi masyarakat Kampung Pasirmuncang.
Perlengkapan tersebut diserahkan secara langsung kepada Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Nurul Huda, Oman, di dalam masjid. Tanpa seremoni panjang, bantuan diterima sejumlah warga yang selama ini menghadapi keterbatasan fasilitas ketika ada anggota keluarga atau tetangga meninggal dunia.

Bertahun-tahun Mengandalkan Sarung dan Bambu
Keterbatasan itu tergambar dari pengalaman warga ketika mengantarkan jenazah menuju pemakaman. Sebelum memperoleh bantuan, masyarakat Pasirmuncang tidak memiliki keranda layak pakai.
Oman mengungkapkan, kondisi tersebut berlangsung sejak kampung berdiri. Bahkan, dalam peristiwa kematian terakhir, warga terpaksa membuat cara darurat dengan memanfaatkan sarung serta bambu sebagai alat menggotong jenazah menuju tempat pemakaman umum.
“Kami sangat terharu dan berterima kasih atas bantuan ini. Sudah dari awal kampung ini ada tidak ada keranda mayat. Baru kemarin ada yang meninggal dunia umur 120 tahun, kita gotong dengan sarung dan bambu ke pemakaman umum,” ungkap Oman.
Kini, warga memiliki keranda yang dapat digunakan secara bersama. Sepuluh paket perlengkapan pemulasaraan juga disiapkan untuk membantu proses pengurusan jenazah apabila kembali terjadi musibah.
Pasirmuncang Dianggap Kampung Mati
Pasirmuncang menyimpan cerita panjang tentang perubahan kehidupan masyarakatnya. Dahulu, wilayah tersebut dihuni sekitar 250 kepala keluarga yang tersebar dalam tiga RT.
Gempa bumi pada tahun 2000 menjadi titik balik. Sebagian besar penduduk kemudian direlokasi ke wilayah lain sehingga populasi Pasirmuncang menyusut drastis.
Saat ini, hanya sekitar 23 kepala keluarga yang masih menetap yang didominasi para lansia.
Kondisi tersebut membuat Pasirmuncang kerap dipandang sebagai “kampung mati”. Bahkan, menurut Oman, rencana pembangunan yang sebelumnya diarahkan menuju wilayah tersebut pernah dialihkan ke tempat lain.
“Sempat beberapa waktu kemarin akan ada perbaikan jalan ke sini (Pasirmuncang), tapi dianggap kampung mati oleh orang-orang, akhirnya dipindahkan,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, langkah LAZISMU Jabar membawa bantuan hingga ke Pasirmuncang menjadi perhatian tersendiri. Medan perjalanan yang sulit tidak menghentikan proses penyaluran kebutuhan pemulasaraan bagi masyarakat.
Bagi warga, keranda baru mungkin terlihat sederhana. Namun bagi 23 keluarga yang masih memilih bertahan di tengah keterbatasan akses, benda tersebut menyelesaikan persoalan yang selama bertahun-tahun belum terjawab.
Bantuan itu sekaligus memperlihatkan bahwa keterisolasian sebuah kampung tidak semestinya membuat kebutuhan dasar warganya ikut terabaikan.






