JUBIRTVNEWS.COM – Di tengah kemeriahan Opening Ceremonial Asian Games 2026 di Oasis 21, Sakae, Nagoya, Jepang, Sabtu (19/9/2026), budaya Sunda ikut mendapat sorotan di hadapan publik internasional. Di antara para penampil, seorang gadis asal Kabupaten Sukabumi tampil membawakan Tari Jaipong Nyi Bentang Ronggeng sambil membawa identitas kampung halamannya ke panggung dunia.
Dia adalah Siti Dalfa Elina (20), warga Kampung Sumur Tilu, Desa Wanasari, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi.
Menariknya, Siti tidak datang ke Jepang sebagai penari yang sengaja diberangkatkan dari Indonesia. Ia kini sedang menempuh pendidikan melalui program beasiswa di Negeri Sakura.
“Saya pelajar disini, diundang komunitas sanggar besttari Nusantara nagoyaa,” kata Siti kepada Jubirtvnews.com, Senin (21/9/2026).
Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya masih tergolong baru menjalani kehidupan di Jepang.
“Masih baru, baru 6 bulan,” ujarnya.
Saat ini Siti tercatat sebagai mahasiswa semester pertama di Nihonggo Gakko, sekolah bahasa Jepang di bawah Sawarabi Academy, dan tinggal di Toyokawa-shi, Aichi-ken.
Meski berada jauh dari tanah kelahiran, kecintaannya terhadap seni tradisional tidak luntur. Justru di Jepang, ia mendapat kesempatan memperkenalkan budaya Sunda kepada masyarakat internasional melalui penampilannya di panggung pembukaan Asian Games 2026.
Siti merupakan anggota Sanggar Tari Jampang Warrior Dance (JWD) Entertainment Surade. Dari sanggar itulah kecintaannya terhadap seni tari terus berkembang hingga akhirnya membawanya tampil dalam ajang berskala internasional.
Penampilannya membawakan Tari Jaipong Nyi Bentang Ronggeng menjadi lebih dari sekadar pertunjukan seni. Di balik setiap gerakan yang dibawakannya, terselip nama Surade, Kabupaten Sukabumi, serta identitas budaya Sunda yang tetap ia bawa meski kini menempuh pendidikan di negeri orang.
Bagi Siti, panggung Opening Ceremonial Asian Games 2026 menjadi titik pertemuan dua perjalanan sekaligus: mengejar pendidikan di Jepang sembari tetap menjaga kecintaannya terhadap seni tradisional Indonesia.
Di tengah kehidupan sebagai pelajar di luar negeri, ia membuktikan bahwa warisan budaya dari kampung halamannya tetap dapat hidup dan dikenal di panggung internasional.












