JUBIRTVNEWS.COM – Hampir setengah abad bertahan di Palabuhanratu, Perguruan Pencak Silat Sabandar Karimadi kini menghadapi tantangan yang berbeda. Bukan soal mempertahankan jurus, melainkan bagaimana membuat generasi muda kembali tertarik mempelajari warisan budaya yang mulai terdesak perkembangan zaman.
Menjelang milangkala ke-45, para pinisepuh dan murid Sabandar Karimadi Palabuhanratu kembali berkumpul. Mereka tidak hanya menyiapkan peringatan perguruan, tetapi juga membicarakan bagaimana ilmu pencak silat tersebut tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Guru Besar sekaligus salah satu penerus Perguruan Pencak Silat Sabandar Karimadi Palabuhanratu, Abah Ateng Sofyan, menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut.
Pria yang usianya hampir 70 tahun itu mengenal perguruan sejak masih berusia sekitar 10 tahun. Pada era 1970-an, ia mengikuti gurunya, Abah Uci almarhum, yang kala itu mengembangkan silat Sukabumian dengan perpaduan Cimande.
Perjalanan keilmuan tersebut kemudian berkembang. Pada sekitar era 1980-an, Abah Uci mulai mengenalkan ilmu Budi Suci dan Sabandar.
Abah Ateng sendiri kemudian mendalami ilmu Sabandar Karimadi setelah melihat demonstrasi ilmu tenaga dalam dalam sebuah kegiatan di Sukabumi. Ia bertanya kepada gurunya mengenai ilmu tersebut dan kemudian diarahkan untuk belajar kepada Abah Iip Sarip di Cibadak.
Dari situlah perjalanan Abah Ateng dalam mengembangkan Sabandar Karimadi di Palabuhanratu semakin panjang.
“Yang akhirnya sampai saat ini ilmu Sabandar Karimadi itu berkembang,” ujar Abah Ateng, Minggu (23/8/2026).
Dalam keilmuan Sabandar Karimadi, terdapat lima jurus inti yang kemudian dikembangkan menjadi 24 rangkaian jurus. Keilmuan itu yang selama puluhan tahun diajarkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Abah Ateng mengatakan, selama perjalanan perguruan, murid yang pernah mengikuti latihan Sabandar Karimadi di bawah pengajarannya sudah mencapai ribuan orang.
Perkembangannya bahkan tidak hanya berhenti di Palabuhanratu. Sejumlah cabang dan murid Sabandar Karimadi telah menyebar ke berbagai daerah, termasuk Bogor, Jakarta hingga wilayah lainnya.
Bagi Abah Ateng, perjalanan panjang tersebut sekaligus menjadi tanggung jawab. Setelah para guru dan senior terdahulu banyak yang telah tiada, ia merasa memiliki kewajiban menjaga agar ilmu tersebut tidak berhenti pada satu generasi.
“Jangan sampai terhenti, terus sampai titik umur,” katanya.
Tantangan regenerasi menjadi persoalan yang kini cukup dirasakan para pelaku Sabandar Karimadi. Bah Dadang, S.Pd., salah seorang junior Abah Ateng sekaligus tokoh menyebut perkembangan teknologi turut mengubah minat anak-anak terhadap pencak silat.
Menurutnya, pandemi Covid-19 sejak 2020 dan semakin kuatnya penggunaan telepon pintar membuat ketertarikan anak-anak terhadap kegiatan latihan pencak silat ikut mengalami perubahan.
“Sekarang posisi kami prihatin. Semenjak Corona, terus datangnya Android, anak-anak peminatannya kurang,” ujar Bah Dadang.
Ia menggambarkan kondisi tersebut secara sederhana: banyak anak lebih sibuk dengan telepon genggam dibandingkan berlatih pencak silat.
Namun, berkumpulnya kembali para pinisepuh dan murid Abah Uci menjelang milangkala menjadi harapan baru. Menurut Bah Dadang, momentum tersebut bisa menjadi titik untuk kembali membesarkan Sabandar Karimadi Palabuhanratu.
Milangkala ke-45 Sabandar Karimadi Palabuhanratu rencananya digelar pada malam 17 Maulud. Persiapan dilakukan melalui musyawarah antara Abah Ateng dan para senior perguruan.
Bah Dadang mengatakan, peringatan tersebut ingin dimanfaatkan untuk menunjukkan bahwa Sabandar Karimadi masih memiliki generasi, murid dan aktivitas yang terus berjalan.
“Intinya ingin membesarkan, supaya Sabandar itu bukan perguruan siluman. Artinya orangnya ada,” ujarnya.
Para murid yang selama ini tidak aktif juga diharapkan kembali hadir dalam momentum tersebut. Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan tersebut akan diisi dengan doa bersama sebagai bentuk penghormatan terhadap para guru dan sesepuh yang telah berjasa dalam perjalanan perguruan.
Bagi para pinisepuh, milangkala bukan hanya perayaan bertambahnya usia perguruan. Lebih jauh, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa warisan budaya membutuhkan generasi yang bersedia meneruskannya.
Upaya mempertahankan Sabandar Karimadi juga diarahkan pada penguatan fasilitas dan kualitas sumber daya manusia. Bah Dadang mengatakan pihak perguruan telah berupaya berkomunikasi melalui IPSI Kabupaten Sukabumi untuk mendapatkan dukungan fasilitas.
Kebutuhannya mulai dari perlengkapan seni seperti kendang, peralatan olahraga pencak silat prestasi hingga sarana latihan seperti matras. Selain fasilitas, perguruan juga berharap ada kesempatan bagi para kader potensial Sabandar Karimadi mengikuti pelatihan kepelatihan.
“Orang-orang yang berpotensi di Sabandar itu minta diikutsertakan dalam pelatihan pelatih yang sejajar dengan perguruan yang lain,” tuturnya.






