Pada babak perpanjangan waktu, Persebaya langsung mengancam melalui sundulan Miguel Pereira yang masih melebar dari gawang Teja Paku Alam.
Menit ke-99, Tolic memasukkan Ramon Tanque, Nazriel Alfaro Syahdan, dan Muhammad Adzikry menggantikan Balsa Sekulic, Adam Alis, serta Gakuto Notsuda. Dalam babak tambahan waktu pertama, Nazriel dan Adzikry menerima kartu kuning akibat pelanggaran.
Memasuki babak tambahan waktu kedua, Persib masih berada dalam tekanan. Ramon Tanque turut menerima kartu kuning, sementara Teja Paku Alam melakukan penyelamatan penting pada menit ke-108 untuk menggagalkan peluang emas Persebaya.
Situasi semakin sulit bagi Persib setelah Mariano Peralta diganjar kartu merah pada menit ke-112 usai wasit meninjau tayangan VAR dan menilai ia melakukan pelanggaran terhadap Rivera.
Meski bermain dengan 10 pemain, Persib mampu mempertahankan skor tetap imbang. Menjelang laga usai, Tolic memasukkan Fitrah Maulana menggantikan Teja Paku Alam sebagai bagian dari strategi menghadapi adu penalti.
Pada babak adu penalti yang berlangsung hingga tujuh penendang, Persib gagal memanfaatkan dua kesempatan melalui Uilliam Barros dan Al Hamra Hehanussa. Sementara lima eksekutor lainnya, yakni Patricio Matricardi, Ramon Tanque, Kakang Rudianto, Julio Cesar, dan Dedi Kusnandar, sukses menjalankan tugasnya.
Di kubu Persebaya, Miguel Pereira, Risto Mitrevski, Yann Mabella, Diogo Ramallo, Walber Motta, dan Gletson berhasil mencetak gol. Satu-satunya penendang yang gagal adalah Yuran Fernandez. Persebaya pun memastikan kemenangan 7-6 pada babak adu penalti sekaligus merebut gelar juara Piala Presiden 2026.
Tolic Bangga dengan Perjuangan Persib
Meski gagal mengangkat trofi Piala Presiden 2026, Igor Tolic tetap memberikan apresiasi tinggi kepada perjuangan para pemainnya. Pelatih asal Kroasia itu lebih dahulu mengucapkan selamat kepada Persebaya yang dinilainya tampil konsisten sepanjang turnamen.
“Selamat untuk Persebaya. Mereka tampil sangat baik sepanjang turnamen dan layak menjadi pemenang,” ujar Tolic dalam konferensi pers usai pertandingan.
Menurutnya, hasil di Piala Presiden bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan tim. Persib berhasil mencapai final meski tidak tampil dengan kekuatan penuh dan memberi banyak kesempatan kepada para pemain muda.
“Kami menembus partai puncak dengan kondisi tim yang tidak utuh. Kami mengorbitkan banyak pemain muda, dan pada akhirnya harus kalah lewat adu penalti,” katanya.
Sepanjang turnamen, sejumlah pemain muda seperti Nazriel Alfaro Syahdan, Rafi Rasyiq, Adzikry Fadlillah, Faris Abdul Hafizh, dan Ikhwan Ali Tanamal mendapat kesempatan menunjukkan kualitasnya. Tolic menilai pengalaman tersebut menjadi modal penting bagi masa depan Persib.
Ia juga memuji mental bertanding anak asuhnya. Sempat tertinggal, kemudian harus bermain dengan 10 orang, Persib tetap mampu menyamakan kedudukan dan memaksa laga ditentukan melalui adu penalti.
“Adu penalti itu soal keberuntungan. Hari ini kami tertinggal 0-1 lalu bisa menyamakan skor 1-1 walau kalah jumlah pemain. Kami memang bukan juara, tetapi saya yakin Bobotoh bisa tersenyum bangga melihat bagaimana tim ini berjuang dan bagaimana identitas permainan kami untuk musim depan,” tegasnya.
Tolic turut menyampaikan terima kasih kepada Bobotoh yang terus memberikan dukungan sepanjang turnamen, baik saat Persib bermain di Bandung maupun di Bali.
“Sepanjang turnamen, pikiran kami selalu tertuju pada suporter. Kami menghadapi banyak dinamika, tetapi saat bermain di Bandung anak-anak tampil habis-habisan. Di Bali pun gelombang dukungan itu terus mengalir. Bobotoh adalah kelompok suporter yang luar biasa,” ucapnya.
Kini, fokus Persib beralih ke persiapan menghadapi Super League 2026/27 serta babak play-off AFC Champions League Two.
“Tugas kami sekarang adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk kompetisi liga dan kualifikasi Champions League. Para pemain harus mempertahankan standar permainan seperti ini. Soal motivasi dan tekad untuk menang, tidak ada yang perlu diragukan. Mental juara ini akan terus kami jaga,” pungkas Tolic.
Sumber: Persib.co.id






