JUBIRTVNEWS.COM – Lahan bantaran Sungai Cidadap di Kampung Leuwi Gadog, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, terus tergerus erosi. Abrasi aliran sungai ini kini semakin meluas dan mengancam keselamatan permukiman warga setempat.
Penumpukan sedimentasi berupa batu, kayu, dan material lumpur membuat alur sungai tak lagi beratur. Dampaknya, arus air berbelok dan menghantam daratan yang dihuni belasan kepala keluarga.
Ketua RT 02/RW 06 Kampung Leuwi Gadog, Dadang Suherman, membeberkan bahwa jarak antara aliran sungai dengan area permukiman warga telah menyusut drastis akibat kikisan air.
Menurutnya, jarak dari kawasan majelis menuju aliran sungai yang dahulu sekitar 350 meter kini semakin dekat. Bahkan, gerusan tanah disebut sudah berada di sekitar batas bronjong dengan jarak hanya sekitar dua meter dari kawasan yang dikhawatirkan warga.
“Dulu kurang lebih 350 meter. Sekarang sudah nempel, ini tinggal sekitar dua meteran dari bronjong. Sudah mendekati kampung,” kata Dadang, Sabtu (5/9/2026).
Kondisi tersebut menjadi semakin mengkhawatirkan ketika memasuki musim penghujan. Warga takut aliran air dari bagian hulu kembali memperbesar gerusan dan membuat tanah di sekitar bantaran sungai semakin terkikis.
“Takut naik keseret lagi,” ujarnya.
Bagi warga, persoalannya bukan sekadar sungai yang dangkal. Material sedimentasi berupa batu, kayu dan endapan yang memenuhi aliran membuat bentuk Sungai Cidadap semakin tidak jelas.
Warga menilai kondisi tersebut perlu segera ditangani sebelum gerusan tanah semakin luas.
Karena itu, mereka mendesak pemerintah turun tangan dengan melakukan normalisasi Sungai Cidadap. Salah satu langkah yang diminta adalah pengerahan alat berat atau ekskavator untuk memindahkan material yang menumpuk di sekitar aliran sungai.
“Mohon kepada pemerintah atau kepada dewan, mohon menurunkan alat berat atau ekskavator,” kata Dadang.
Tokoh masyarakat setempat, Sukardi, menambahkan bahwa masyarakat membutuhkan normalisasi karena pendangkalan parah terah mengubah lanskap alam sekitar.
Ia bahkan menyebut bentuk sungai Cidadap dan arah alirannya tidak lagi terlihat jelas akibat material yang menumpuk.
“Enggak kelihatan bentuk sungainya, enggak kelihatan bentuk aliran ke mana airnya ngalir,” kata Sukardi.
Menurutnya, normalisasi diperlukan untuk mengembalikan jalur aliran sungai sekaligus mengurangi potensi gerusan tanah yang semakin mendekati kawasan permukiman.
Sukardi mengatakan masyarakat tidak ingin hanya menunggu sampai dampaknya semakin besar. Mereka berharap pemerintah pusat maupun daerah memberikan penanganan nyata.
“Saya ingin menyampaikan suara masyarakat. Artinya suara hati mereka,” ujarnya.
Bagi warga Leuwi Gadog, persoalan Sungai Cidadap kini menyentuh dua hal sekaligus: keselamatan lingkungan tempat mereka tinggal dan keberlangsungan mata pencaharian.
Tanah terus terkikis, sawah kehilangan fungsi, sementara sungai semakin mendekati kampung.
“Warga berharap normalisasi segera dilakukan,” tandasnya.






