JUBIRTVNEWS.COM – Memasuki H+3 Lebaran, kemacetan ekstrem melumpuhkan total jalur wisata sekaligus jalur alternatif Cikidang-Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Antrean kendaraan dilaporkan terkunci (stuck) sejak Senin malam (23/3/2026) hingga Selasa pagi (24/3/2026).
Seorang wisatawan asal Bogor, Ahmad, mengaku telah berangkat sejak pukul 22.00 WIB dari kawasan Ciawi. Namun hingga pukul 07.30 WIB, ia masih tertahan di perbatasan Cikidang–Palabuhanratu akibat kemacetan yang tak kunjung terurai.
“Dari malam sudah macet, pagi ini pun belum lancar. Bahkan sempat hampir dua jam tidak bergerak sama sekali,” ujarnya.
Titik kemacetan terparah terjadi di kawasan tanjakan Pasir Bilik Desa Buniwangi. Di lokasi ini, kendaraan dari dua arah baik yang menuju kawasan wisata maupun yang keluar dari Palabuhanratu menumpuk tanpa celah. Sistem buka-tutup arus lalu lintas yang diterapkan petugas justru membuat antrean semakin panjang.
Kendaraan yang terjebak di jalur menanjak terpaksa bertahan dalam kondisi ekstrem. Banyak pengendara mengeluhkan mesin kendaraan yang bekerja keras, bahkan tercium bau kampas kopling akibat tekanan berlebih saat menghadapi tanjakan curam di tengah kemacetan.
Sekitar pukul 07.45 WIB, arus sempat bergerak, namun hanya dalam jarak sangat terbatas sebelum kembali tersendat.
Kondisi serupa disampaikan Bewok, warga Cikakak, yang menyebut kemacetan dari arah Palabuhanratu menuju Cikidang sudah dalam kategori parah dan meluas di berbagai titik.
Untuk mengurai kepadatan, aparat kepolisian memberlakukan rekayasa lalu lintas berupa sistem satu arah (one way) di sekitar Pos Pengamanan Gunung Butak. Kendaraan dari arah Cikidang melalui Cimanggu dialihkan dan diputar balik menuju arah Polres Sukabumi, sebelum kembali masuk ke jalur utama melalui pusat kota.
Namun di sisi lain, jalur alternatif melalui Cimanggu menuju Buniwangi juga tak luput dari kepadatan. Arus balik wisatawan menumpuk di simpang Buniwangi, menciptakan titik kemacetan baru yang memperlambat distribusi kendaraan secara keseluruhan.
Lonjakan volume kendaraan pada puncak arus balik libur Lebaran ini membuat kapasitas jalan tidak mampu menampung pergerakan lalu lintas.
“Hingga pagi hari, kepadatan masih terjadi dan berpotensi berlanjut seiring masih tingginya mobilitas wisatawan,” tambah Bewok.










