JUBIRTVNEWS.COM – Sebagian besar wilayah di Jawa Barat diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026. Namun, kondisi tahun ini tidak biasa karena kemarau diprediksi berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan rata-rata klimatologis.
Prakirawan Cuaca Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat, Vivi Indhira, menyebut sekitar 93 persen wilayah akan mengalami curah hujan di bawah normal selama periode kemarau.
Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Press Release Musim Kemarau Jawa Barat 2026 yang digelar secara daring, Selasa (14/4/2026).
Wilayah yang diprediksi mengalami kondisi tersebut meliputi Kota Bandung, Kota Tasikmalaya, Cianjur, Sukabumi, Bekasi, Cirebon, dan Kuningan. Sementara hanya sekitar 7 persen wilayah yang memiliki sifat hujan normal.
Selain lebih kering, sekitar 81 persen wilayah Jawa Barat juga diperkirakan mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang, termasuk Sukabumi, Karawang, Indramayu, dan Kota Tasikmalaya.
Sebagian wilayah lainnya mengalami durasi kemarau normal, terutama di bagian tengah dan timur Jawa Barat. Bahkan, sekitar 7 persen wilayah seperti Cimahi diperkirakan mengalami kemarau yang lebih pendek.
Untuk Kota Bogor, hujan diprediksi tetap terjadi sepanjang tahun sehingga perbedaan musim kemarau dan hujan tidak terlalu terlihat.
BMKG mencatat sekitar 56 persen wilayah Jawa Barat mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026, disusul 30 persen wilayah lainnya pada Juni 2026, termasuk Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Cimahi, Cianjur, dan Kota Sukabumi.
Sementara itu, hanya sebagian kecil wilayah yang sudah lebih dulu memasuki musim kemarau pada April dan Maret 2026.
Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026 di sekitar 90 persen wilayah Jawa Barat.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau berbagai langkah antisipasi, terutama dalam pengelolaan sumber daya air dan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana.
“Antisipasi krisis air bersih dengan penyaluran air dan sumur bor darurat. Kita juga perlu hemat air,” kata Vivi.
Di sektor pertanian, petani diminta menyesuaikan kalender tanam, menggunakan varietas tahan kering, serta mengoptimalkan irigasi hemat air.
BMKG juga mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan, serta pentingnya menjaga kapasitas air di bendungan untuk operasional pembangkit listrik.
Selain itu, masyarakat diimbau menjaga kesehatan selama musim kemarau.
“Antisipasi peningkatan infeksi saluran pernafasan akut akibat asap. Awasi juga kualitas sanitasi saat pasokan air berkurang,” ucap Vivi.
Sumber: jabarprov.go.id







