JUBIRTVNEWS.COM – Perlahan namun pasti, akses warga di sejumlah wilayah Kabupaten Sukabumi mulai kembali normal setelah bencana sempat memutus jalur penghubung antar desa dan kecamatan. Hingga pertengahan 2026, sebanyak 14 jembatan yang rusak akibat bencana berhasil diperbaiki melalui kolaborasi pendanaan dari APBD, program CSR perusahaan, dan swadaya masyarakat.
Pemulihan jembatan tersebut menjadi kabar penting bagi warga, terutama di daerah perdesaan yang selama berbulan-bulan harus menghadapi keterbatasan akses transportasi. Jembatan tidak hanya menjadi sarana penyeberangan, tetapi juga urat nadi aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pelayanan kesehatan.
Pemerintah Kabupaten Sukabumi mencatat masih ada puluhan jembatan yang membutuhkan penanganan. Dari total 41 jembatan terdampak bencana, sebanyak 23 di antaranya mengalami kerusakan berat sehingga memerlukan rehabilitasi menyeluruh.
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Sukabumi, Sendi Apriadi, menyampaikan kondisi tersebut saat menghadiri musyawarah rencana pembangunan Jembatan Gantung Leuwidingding yang akan menghubungkan Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, dengan Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh pada Juli lalu.
“Hingga saat ini sekitar 14 jembatan telah berhasil ditangani, baik melalui APBD, bantuan CSR, maupun swadaya masyarakat. Hari ini kami kembali mendapatkan dukungan CSR untuk pembangunan jembatan ini. Tentu hal tersebut patut diapresiasi,” ujar Sendi.
Menurutnya, kemampuan fiskal daerah yang terbatas membuat pemerintah tidak bisa mengandalkan APBD semata. Karena itu, keterlibatan dunia usaha dan masyarakat menjadi faktor penting dalam mempercepat pemulihan infrastruktur.
Pendekatan kolaboratif tersebut dinilai mampu menjaga keberlanjutan pembangunan, terutama pada wilayah yang membutuhkan penanganan segera agar aktivitas warga tidak kembali terhambat.
Selain kerusakan akibat bencana, pemerintah daerah juga menghadapi persoalan jembatan tua yang konstruksinya mulai menurun kualitasnya. Kondisi ini membuat kebutuhan rehabilitasi terus bertambah dari tahun ke tahun.
Di antara proyek yang tengah disiapkan, Jembatan Gantung Leuwidingding disebut memiliki nilai strategis karena akan menghubungkan aktivitas masyarakat di dua kecamatan sekaligus.
Berdasarkan data Disperkim, jembatan tersebut diperkirakan memiliki bentang sekitar 84 meter dan berpotensi menjadi jembatan gantung terpanjang di Kabupaten Sukabumi.
“Kalau berdasarkan data kami, ini akan menjadi jembatan gantung paling panjang di Kabupaten Sukabumi. Sebagian besar jembatan lainnya memiliki bentang sekitar 30 sampai 40 meter,” katanya.
Disperkim menyatakan dokumen teknis pembangunan telah disiapkan, mulai dari Detail Engineering Design (DED), gambar teknis, dokumen perizinan, hingga fasilitasi kepada masyarakat.
Perhitungan awal pemerintah daerah pada 2025 memperkirakan kebutuhan anggaran pembangunan jembatan tersebut mencapai lebih dari Rp1,2 miliar. Nilai itu masih akan disesuaikan kembali setelah kajian teknis dan desain akhir selesai.
Bagi Kabupaten Sukabumi yang memiliki wilayah luas dan topografi beragam, keberadaan jembatan menjadi fondasi penting ketahanan daerah. Infrastruktur yang aman akan mempercepat distribusi hasil pertanian, mempermudah mobilitas warga, sekaligus memperkuat pemerataan pembangunan hingga pelosok.
Pemerintah daerah berharap semangat gotong royong yang muncul dalam pembangunan jembatan dapat terus dipertahankan, tidak hanya saat pembangunan berlangsung tetapi juga dalam pemeliharaan setelah jembatan selesai digunakan.






