JUBIRTVNEWS.COM – Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Sukabumi mengajak masyarakat lebih memahami pentingnya menjaga kualitas dan keamanan ikan sebelum dikonsumsi. Salah satu hal yang perlu diwaspadai yakni pembentukan histamin pada ikan akibat penanganan dan penyimpanan yang tidak tepat.
Histamin merupakan senyawa yang terbentuk ketika bakteri mengubah histidin, salah satu asam amino penyusun protein yang secara alami terdapat dalam ikan. Sejumlah jenis ikan, seperti tuna, tongkol, cakalang, dan kembung, memiliki kandungan histidin bebas relatif tinggi sehingga berpotensi membentuk histamin apabila penanganannya tidak tepat.
“Histamin adalah senyawa yang terbentuk ketika bakteri mengubah histidin pada ikan, terutama jika ikan ditangani atau disimpan pada suhu dan waktu yang tidak tepat,” tulis Diskan, dikutip Senin (12/10/2026).
Diskan menjelaskan, keracunan histamin dapat menimbulkan sejumlah gejala dalam waktu singkat setelah seseorang mengonsumsi ikan yang mengandung histamin. Gejala yang umum muncul meliputi wajah atau bagian tubuh memerah dan gatal, sakit kepala, pusing, mual, muntah, hingga diare.
Setiap orang dapat memiliki tingkat toleransi dan sensitivitas yang berbeda terhadap histamin. Karena itu, reaksi yang muncul setelah mengonsumsi ikan juga dapat bervariasi.
“Gejala yang muncul bisa berbeda pada setiap orang. Masyarakat perlu mengenali gejalanya dan mengetahui langkah penanganan yang tepat, terutama apabila muncul gejala berat seperti sesak napas, pembengkakan pada lidah atau tenggorokan, hingga pingsan,” lanjut keterangan dalam postingan tersebut.
Untuk penanganan awal, antihistamin dapat membantu meredakan gejala seperti gatal dan kemerahan dengan penggunaan sesuai arahan tenaga kesehatan. Masyarakat juga perlu mencukupi kebutuhan cairan, terutama ketika mengalami muntah atau diare. Jika muncul gejala berat, pertolongan medis darurat harus segera dicari.
Jaga Rantai Dingin, Cegah Pembentukan Histamin
Selain mengenali gejala, Diskan menekankan pentingnya mencegah pembentukan histamin melalui penanganan ikan yang benar. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan meliputi waktu penyimpanan, suhu, keberlangsungan rantai dingin, serta kebersihan selama penanganan.
Ikan yang terlalu lama berada dalam kondisi penyimpanan yang tidak sesuai berisiko mengalami peningkatan histamin. Oleh sebab itu, ikan perlu segera didinginkan setelah ditangkap atau dibeli, disimpan pada suhu yang sesuai, dan tidak dibiarkan terlalu lama berada pada suhu ruang.
“Rantai dingin harus dijaga selama proses penanganan, penyimpanan, dan distribusi. Penggunaan es yang bersih dan layak serta menjaga kebersihan saat menangani ikan juga penting untuk mempertahankan mutu dan keamanan ikan,” tambahnya.
Hal lain yang perlu diperhatikan, histamin yang sudah terbentuk tidak hilang begitu saja hanya karena ikan dimasak. Dengan demikian, pencegahan perlu dilakukan sejak awal melalui pengendalian suhu dan penanganan yang tepat.
Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa menjaga kualitas ikan tidak cukup hanya dengan memperhatikan proses memasak. Penanganan sejak ikan ditangkap atau dibeli hingga diolah menjadi bagian penting untuk memastikan ikan tetap bermutu dan aman dikonsumsi.













