Beranda / Daerah / Petani di Palabuhanratu Bertahan di Tengah Irigasi Bocor, Sawah Terancam Tak Produktif

Petani di Palabuhanratu Bertahan di Tengah Irigasi Bocor, Sawah Terancam Tak Produktif

Traktir Kopi

JUBIRTVNEWS.COM – Saluran irigasi yang seharusnya menjadi urat nadi pasokan air bagi persawahan warga di Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, justru mengalami kebocoran parah. Debit air yang mengalir dari hulu habis terbuang di tengah jalan sebelum mencapai lahan pertanian di kawasan hilir.

Kondisi memprihatinkan ini terjadi pada saluran Daerah Irigasi (DI) Citepus yang membentang di Kampung Cidahon, Desa Citepus. Akibat terputusnya pasokan air, puluhan hektare sawah warga kini terancam gagal produksi.

Ketua Kelompok Tani (Poktan) Mukti Tani, Dadang, mengungkapkan bahwa krisis air akibat kebocoran saluran irigasi ini sudah dirasakan para petani dalam empat bulan terakhir. Dampaknya, sekitar 50 hektare lahan pertanian produktif kini kesulitan mendapatkan pasokan air bersih secara optimal.

Baca Juga :  Dedi Mulyadi-Erwan Unggul Telak di Ibu Kota Kabupaten Sukabumi pada Pilkada 2024

“Tahun sekarang petani benar-benar mengeluh. Dari hulu sampai hilir banyak yang tidak beres, terutama karena banyak kebocoran. Biasanya musim kemarau empat bulan pun masih bisa produksi, tetapi sekarang petani benar-benar kesulitan,” ujar Dadang, Kamis (1/10/2026).

Saluran yang membentang dari sumber air Sungai Citepus menuju kawasan pertanian memiliki lintasan cukup panjang. Sepanjang jalur tersebut, kebocoran di sejumlah titik membuat debit air semakin berkurang sebelum tiba di lahan petani.

Baca Juga :  Musim Panen Durian Cikakak Melimpah, Petani Berharap Pemerintah Sukabumi Gelar Kembali Festival

Dari 53 petani yang tergabung dalam Poktan Mukti Tani, sebagian kini tidak bisa lagi mengandalkan sawah seperti kondisi normal.

Pilihan lain pun ditempuh. Sejumlah petani mencoba mencari penghasilan dengan melaut ketika lahan pertanian tidak dapat digarap.

“Kalau sawah tidak bisa ditanami, paling kami ke laut. Namanya juga usaha, tetapi kadang ada hasil, kadang nihil,” katanya.

Petani sebenarnya tidak tinggal diam. Dengan kemampuan seadanya, warga mencoba menutup titik-titik kebocoran menggunakan terpal, plastik, hingga material yang tersedia.

Bahkan, petani sempat mengumpulkan iuran secara sukarela yang nilainya mencapai sekitar Rp6 juta untuk melakukan perbaikan saluran.

Baca Juga :  Petani Luka Diseruduk Babi Hutan di Pangumbahan, Warga Bantah Isu Pemburu Liar Bikin Resah

Namun, upaya swadaya tersebut belum mampu menyelesaikan persoalan secara menyeluruh. Kerusakan saluran yang terjadi di sejumlah titik membutuhkan penanganan lebih besar.

“Kami berharap ada perbaikan dari instansi terkait. Kalau ada perbaikan, petani siap turun dan bergotong royong karena memang sangat membutuhkan air,” ujar Dadang.

Harapan petani kini mengarah pada rehabilitasi DI Citepus, terutama pada bagian saluran yang mengalami kebocoran dan kerusakan.

“Harapannya secepatnya diperbaiki. Jangan terlalu lama karena petani kasihan. Kami membutuhkan saluran ini supaya bisa kembali berproduksi,” pungkasnya.

Traktir Kopi
Tag:

Pos-pos Terbaru