JUBIRTVNEWS.COM – Bencana pergerakan tanah yang melanda dua desa di Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, memaksa ratusan warga untuk mengungsi.
Berdasarkan laporan sementara dari Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Sukabumi, tercatat 407 jiwa dari 120 kepala keluarga (KK) kini harus meninggalkan rumah mereka sejak bencana mulai terjadi pada Rabu (4/3/2026).
Manajer Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, menjelaskan bahwa bencana ini dipicu oleh tingginya intensitas curah hujan yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari terakhir.
“Pergerakan tanah terjadi di dua desa di Kecamatan Bantargadung, yaitu Desa Bantargadung dan Desa Bojonggaling,” ujarnya dalam laporan penanganan tanggap darurat yang disampaikan hingga Sabtu (7/3/2026).
Secara keseluruhan, bencana ini berdampak pada 134 kepala keluarga atau 475 jiwa. Meski demikian, tidak ada korban jiwa maupun warga yang dilaporkan hilang.
“Dari total pengungsi, sebagian besar warga ditempatkan di lokasi pengungsian terpusat yang berada di lapangan dekat Puskesmas Bantargadung,” ucapnya.
Di Desa Bantargadung, sebanyak 76 KK atau 250 jiwa mengungsi di lokasi tersebut. Sementara sebagian warga lainnya memilih tinggal secara mandiri, baik di rumah kerabat maupun menyewa tempat tinggal sementara.
Di Desa Bojonggaling, sebanyak 10 KK atau 45 jiwa juga mengungsi ke rumah sanak saudara untuk sementara waktu.
Selain mengakibatkan warga mengungsi, pergerakan tanah juga merusak sedikitnya 114 rumah warga. Rinciannya, 70 rumah mengalami rusak berat, 26 rumah rusak sedang, serta 18 rumah rusak ringan.
Bahkan, sebanyak 9 rumah lainnya masih berada dalam kondisi terancam akibat pergerakan tanah yang berpotensi meluas.
Tidak hanya rumah warga, bencana tersebut juga berdampak pada fasilitas lainnya, termasuk satu pesantren yaitu Pondok Pesantren Haryadul Fallah serta akses jalan lingkungan yang mengalami kerusakan.
Sebagai langkah penanganan cepat, pemerintah Kabupaten Sukabumi menetapkan status tanggap darurat bencana untuk wilayah terdampak di Kecamatan Bantargadung per tanggal 4 Maret 2026 hingga 10 Maret 2026 mendatang.
Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, aparat pemerintah daerah, relawan, serta unsur terkait saat ini terus melakukan pendataan dan penilaian kerusakan di lapangan.
Selain itu, posko tanggap darurat juga telah didirikan untuk mengoordinasikan bantuan serta memastikan kebutuhan dasar para pengungsi dapat terpenuhi.
“Fokus utama penanganan saat ini meliputi penyelamatan warga, pelayanan kesehatan, perlindungan kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, serta pemulihan sarana prasarana yang terdampak,” tambah Daeng.
Di tengah kondisi pengungsian, para korban bencana masih membutuhkan berbagai bantuan logistik. Beberapa kebutuhan mendesak di antaranya bahan makanan untuk dapur umum, air mineral, susu formula, makanan tambahan gizi, serta paket sembako.
Selain itu, perlengkapan dasar seperti kasur lipat, matras, selimut, pakaian baru, perlengkapan mandi, hingga popok bayi dan lansia juga sangat dibutuhkan.
BPBD Kabupaten Sukabumi mengimbau berbagai pihak untuk bersama-sama membantu meringankan beban para korban bencana yang saat ini masih bertahan di lokasi pengungsian.
“Hingga kini, tim gabungan penanganan bencana masih terus melakukan assessment dan pemantauan kondisi di lapangan guna memastikan keselamatan warga serta mencegah dampak yang lebih luas,” tandasnya.









