JUBIRTVNEWS.COM – Kementerian Luar Negeri telah memulangkan lebih dari 27 ribu Warga Negara Indonesia (WNI) ke tanah air sepanjang tahun 2025. Para WNI itu dipulangkan dari luar negeri karena bermasalah.
“Di Kemenlu ada direktorat perlindungan warga negara, Alhamdulillah tahun 2025 kita sudah mengembalikan lebih dari 27 ribu WNI dari luar yang bermasalah,” ujar Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Anis Matta usai menjadi pembicara di Talk Ambassador Nusa Putra University (NPU), Kabupaten Sukabumi, Rabu (21/1/2026).
Ia menuturkan pemerintah akan membantu kepulangan WNI yang bermasalah di luar negeri. Meski demikian, Anis tidak menjelaskan secara rinci apa saja permasalahan yang dialami, namun menurut dia, salah satunya terkait kasus penipuan daring atau scam yang melibatkan WNI di Kamboja.
“Semua WNI yang bermasalah di luar sana Insya Allah akan kita bantu akan kita proses. Masalahnya macam-macam, ada korban scam. Kita konsen begitu hidup disana tidak lagi kondusif mereka kita kembalikan ke Indonesia,” katanya..
Sementara itu, dalam kegiatan Talk Ambassador di Nusa Putra University (NPU), Kabupaten Sukabumi, Anis menyampaikan materi mengenai geopolitik yang kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi. Menurut Anis, isu geopolitik sangat relevan dengan Nusa Putra University karena banyak mahasiswa di perguruan tinggi tersebut berasal dari luar negeri.
“Ini diskusi yang sangat produktif sekali dan saya kaget karena disini ada banyak mahasiswa asing sekitar 450 orang dari sekitar 80 negara. Sepanjang diskusi saya pikir tadinya ini temanya berat, ternyata para mahasiswa sangat antusias serta banyak yang menyampaikan pertanyaan yang berat-berat,” imbuhnya.
Ia menambahkan, hal tersebut menunjukkan tingginya keterlibatan mahasiswa terhadap isu-isu geopolitik. Menurutnya, saat ini sudah waktunya geopolitik tidak lagi dianggap sebagai isu berat, melainkan menjadi isu sehari-hari yang diperbincangkan secara domestik karena berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
“Ini menunjukan mereka punya keterlibatan dengan isu-isu geopolitik dan saya kira ini waktunya mengubah isu geopolitik menjadi isu sehari-hari, isu domestik yang kita perbincangkan sehari-hari karena ini mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari,” tandasnya.










