Beranda / Lifestyle / Jangan Terjebak Lapar Mata! Hitung Ulang Anggaran Buka Puasa Anda di Tengah Lonjakan Harga Pangan

Jangan Terjebak Lapar Mata! Hitung Ulang Anggaran Buka Puasa Anda di Tengah Lonjakan Harga Pangan

JUBIRTVNEWS.COM – Memasuki hari ketiga Ramadan, Sabtu (21/2/2026), ritual sore hari warga Indonesia masih sama, yakni berburu takjil.

Namun, ada yang berbeda di balik kantong plastik penuh makanan itu. Jika Anda merasa uang seratus ribu rupiah kini terasa lebih cepat habis di pasar kaget, Anda tidak sendirian. Kita sedang terjebak dalam pusaran “Lapar Mata” di saat harga pangan sedang tidak ramah pada kantong.

Anomali Dompet di Bulan Suci

Berdasarkan pantauan real-time harga komoditas hari ini, lonjakan harga bahan pokok mulai dari gula pasir, minyak goreng, hingga telur, telah menciptakan tekanan baru bagi rumah tangga. Ironisnya, di tengah keterbatasan ini, konsumsi masyarakat justru cenderung naik drastis.

Fenomena “lapar mata” saat menunggu beduk Maghrib bukan sekadar urusan perut, melainkan jebakan psikologis. Kita cenderung membeli lebih banyak dari yang mampu kita makan. Analisis jubirtvnews menemukan bahwa rata-rata dari makanan yang dibeli saat berbuka selalu banyak meninggalkan sisa dan berakhir di tempat sampah. Di tengah lonjakan harga pangan 2026 yang tak menentu, membuang makanan bukan lagi sekadar dosa moral, melainkan bunuh diri finansial.

Baca Juga :  Penderita Maag Wajib Tahu! Ini 3 Jenis Makanan yang Harus Dihindari Agar Tak Kambuh

Matematika Buka Puasa: Siapa yang Menang?

Mari kita hitung dengan kepala dingin. Jika satu keluarga kecil menghabiskan rata-rata Rp50.000 hingga Rp75.000 ekstra hanya untuk camilan buka puasa setiap hari, maka dalam sebulan ada “kebocoran” anggaran hingga Rp2,2 juta. Angka ini setara dengan cicilan motor atau biaya sekolah anak.

Siapa yang diuntungkan? Tentu saja rantai distribusi yang memanfaatkan lonjakan permintaan sesaat. Kita sering kali menyalahkan pemerintah atas harga beras yang mahal, namun kita sendiri gagal mengelola disiplin belanja di meja makan sendiri.

Baca Juga :  Siap Sambut 2026, 5 Hal Sederhana Ini Bisa Dilakukan untuk Hidup Lebih Baik dan Terarah di Tahun Baru

Ramadan seharusnya menjadi momentum detoksifikasi finansial, bukan ajang pamer konsumsi yang berakhir dengan defisit tabungan di hari lebaran.

Solusi Strategis: Menjinakkan Nafsu di Meja Makan

Jurnalisme harus memberikan solusi, bukan sekadar keluhan. Untuk menjaga agar dapur tetap mengebul hingga hari raya, ada beberapa langkah “investigasi mandiri” yang harus dilakukan setiap keluarga:

Audit Menu: Berhenti membeli takjil berdasarkan keinginan sesaat.

Kembali ke sunnah: kurma dan air putih jauh lebih sehat dan murah daripada lima macam gorengan yang digoreng dengan minyak yang kualitasnya meragukan.

Masak!, Jangan selalu beli: Dirasa semua sepakat, bahwasanya memasak sendiri di rumah bisa menghemat anggaran dibandingkan membeli makanan jadi di pinggir jalan yang harganya sudah tidak di-mark-up pedagang musiman.

Baca Juga :  Sering Diabaikan, Ini Manfaat Nyata Self-Care untuk Kesehatan Tubuh

Hentikan Stok Berlebih: Jangan terjebak! Stoklah secukupnya, bukan segudangnya.

Kesimpulan Redaksi: Puasa dari Pemborosan

Ramadan 2026 ini memberikan pelajaran keras bagi kita semua: bahwa harga pangan tidak akan pernah turun hanya dengan kita mengeluh di media sosial. Satu-satunya hal yang bisa kita kendalikan adalah ego kita sendiri.

Berbuka puasa dengan sederhana bukan berarti Anda miskin; itu artinya Anda cerdas secara finansial dan spiritual. Jangan biarkan lapar mata hari ini merampas ketenangan finansial Anda esok hari. Ingat, hari raya masih jauh, dan tagihan tidak ikut berpuasa.

Tajuk Redaksi oleh: Muri

Tag:

Berita Video

Berita Terbaru

Pos-pos Terbaru

error: Content is protected !!