JUBIRTVNEWS.COM – Dalam sistem evaluasi UNESCO Global Geopark (UGGp), terdapat tiga kategori kartu yang menjadi tolok ukur keberlanjutan status suatu geopark, yakni kartu hijau, kartu kuning, dan kartu merah. Evaluasi ini dilakukan setiap empat tahun sekali untuk memastikan sebuah geopark memenuhi standar internasional.
1. Kartu Hijau (Green Card)
Pengelolaan dinilai baik dan sesuai standar UNESCO.
Status UNESCO Global Geopark diperpanjang selama empat tahun.
Geopark mendapat pengakuan global, sekaligus peluang lebih besar untuk akses kolaborasi internasional, program riset, serta pengembangan pariwisata berkelanjutan.
2. Kartu Kuning (Yellow Card)
Menunjukkan adanya kelemahan serius yang harus diperbaiki dalam waktu dua tahun.
Jika perbaikan tidak dilakukan, status geopark bisa diturunkan atau ditinjau ulang.
3. Kartu Merah (Red Card)
Menunjukkan kegagalan pengelolaan.
Status UNESCO Global Geopark bisa dicabut sehingga kawasan tidak lagi menjadi bagian dari jejaring geopark dunia.
Kabar menggembirakan datang dari Geopark Ciletuh Palabuhanratu di Kabupaten Sukabumi. Dalam sidang UNESCO Global Geopark Council di Chili pada 5–6 September 2025, kawasan ini direkomendasikan meraih kartu hijau.
Rekomendasi ini menandakan bahwa Geopark Ciletuh Palabuhanratu sudah memenuhi sebagian besar standar UNESCO, meski masih ada catatan yang harus ditingkatkan pada periode empat tahun mendatang.
General Manager BP Geopark Ciletuh Palabuhanratu, Aat Suwarno, menyebut capaian ini sebagai hasil kerja kolektif.
“Poin utamanya ini adalah keseriusan kita bersama yang dilihat secara kolektif. Sehingga kita bisa menyelesaikan rekomendasi sebelumnya dari UNESCO,” ujar Aat saat dihubungi Jubir TV News, Selasa (9/9/2025).
Jika rekomendasi ini disahkan Dewan Eksekutif UNESCO pada awal 2026, maka Geopark Ciletuh Palabuhanratu akan kembali resmi menyandang kartu hijau. Status ini membawa sejumlah manfaat penting, diantaranya:
- Pengakuan Internasional: memperkuat citra Sukabumi sebagai destinasi geopark kelas dunia.
- Pariwisata Berkelanjutan: menarik lebih banyak wisatawan domestik maupun mancanegara, sekaligus menjaga kelestarian alam.
- Peluang Riset dan Edukasi: membuka pintu kerja sama dengan universitas, peneliti, dan lembaga global.
- Pemberdayaan Ekonomi Lokal: meningkatkan potensi ekonomi masyarakat melalui UMKM, produk kreatif, dan jasa wisata.
- Dukungan Pendanaan dan Program Global: lebih mudah mendapat akses bantuan, hibah, atau proyek kolaborasi dari jejaring UNESCO.
Sebagai catatan, Geopark Ciletuh Palabuhanratu pertama kali ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark pada tahun 2022. Sejak itu, kawasan ini masuk dalam jaringan geopark dunia yang menekankan konservasi, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan berbasis masyarakat.
Kini, dengan rekomendasi kartu hijau dari sidang di Chili, Ciletuh Palabuhanratu tidak hanya berpeluang untuk mempertahankan status internasionalnya, tetapi juga memperkuat posisi Sukabumi di peta geopark dunia.










