Beranda / Daerah / 8.925 Hektare Lahan Pertanian di Sukabumi Terdampak Kemarau, Wilayah Selatan Paling Parah

8.925 Hektare Lahan Pertanian di Sukabumi Terdampak Kemarau, Wilayah Selatan Paling Parah

Traktir Kopi

JUBIRTVNEWS.COM — Dampak musim kemarau di Kabupaten Sukabumi kian meluas. Dinas Pertanian (Distan) setempat mencatat, hingga 31 Juli 2026, sebanyak 8.925 hektare sawah dan lahan tegalan mengalami kekeringan akibat drastisnya penurunan pasokan air pertanian.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Aep Majmudin, mengungkapkan bahwa menyusutnya debit air sungai dan sumber mata air yang dialirkan melalui jaringan irigasi menjadi penyebab utama ribuan hektare lahan pertanian terdampak.

“Luas sawah kita mencapai lebih dari 62.000 hektare. Menurut catatan petugas, sampai 31 Juli itu ada 8.925 hektare luas pertanaman kita yang memang terkena dampak. Kemudian yang terancam itu kurang lebih 687 hektare,” ujar Aep.

Baca Juga :  Wabup Andreas Ajak Pelaku UMKM di Sukabumi Manfaatkan Teknologi untuk Perluas Pasar

Aep membeberkan, wilayah selatan Kabupaten Sukabumi menjadi daerah yang menanggung dampak kekeringan paling parah. Kecamatan Pabuaran mencatatkan area terdampak terbesar, yakni mencapai 3.125 hektare. Kondisi serupa juga melanda kawasan Kalibunder, Ciracap, Surade, Jampangkulon, Waluran, hingga Ciemas.

Situasi ini menjadi perhatian serius lantaran kecamatan-kecamatan di wilayah selatan tersebut merupakan kawasan sentra lumbung pangan utama bagi Kabupaten Sukabumi.

Baca Juga :  Dibuka Bupati dan Dihadiri Ketua DPRD, Konferensi PGRI Sukabumi Jadi Momentum Evaluasi dan Inovasi

Di sisi lain, tidak seluruh lahan pertanian langsung ditanami selama musim kemarau. Sebagian petani memilih menunda pengolahan lahan sebagai bentuk antisipasi terhadap kondisi cuaca dan ketersediaan air.

“Ini tentu setiap hari terus berkembang, karena memang hari ini ada yang sudah ditanami, ada yang kebanyakan belum diolah. Petani juga sudah mengantisipasi,” katanya.

Selain curah hujan yang rendah, Aep mengatakan penurunan debit sumber mata air dan sungai turut memperburuk kondisi pengairan pertanian. Sejumlah jaringan irigasi yang rusak juga menjadi persoalan, meski sebagian di antaranya merupakan kewenangan pemerintah pusat dan provinsi.

Baca Juga :  Masih Berlangsung, Kapan Program Pemutihan Pajak Kendaraan di Jabar Berakhir?

“Memang debit airnya, selain ada beberapa irigasi yang kewenangan pusat sama provinsi rusak. Tapi yang paling utama penyebabnya tidak hujan, kedua sumber-sumber mata airnya kecil termasuk sungai-sungai besar debitnya berkurang, sehingga berdampak terhadap tanaman,” pungkasnya.

Traktir Kopi
Tag: