Beranda / Daerah / Dapur MBG Ditutup Imbas Dugaan Keracunan di Simpenan, Puluhan Relawan Kehilangan Penghasilan

Dapur MBG Ditutup Imbas Dugaan Keracunan di Simpenan, Puluhan Relawan Kehilangan Penghasilan

JUBIRTVNEWS.COM – Penutupan sementara dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, tidak hanya berdampak pada terhentinya distribusi makanan bagi penerima manfaat, tetapi juga memukul kondisi ekonomi puluhan relawan dapur yang kini kehilangan sumber penghasilan.

Sedikitnya sekitar 50 relawan MBG yang bertugas di dapur Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Anugerah Ratu Alam 1, Desa Loji, terpaksa menghentikan seluruh aktivitas kerja sejak dapur tersebut dinyatakan berhenti beroperasi. Penutupan dilakukan sembari menunggu hasil investigasi laboratorium serta surat resmi dari Badan Gizi Nasional (BGN) untuk kembali beroperasi.

Kepala SPPG Loji, Letda KC. Anwar Syapei, menjelaskan bahwa penghentian operasional dapur bersifat sementara, namun hingga kini belum ada kepastian kapan aktivitas produksi dapat kembali berjalan.

Baca Juga :  Riuh Gembira Siswa SMPN 1 Palabuhanratu Saat Perdana Terima Makan Bergizi Gratis

“Untuk sementara dapur kami berhenti beroperasional sampai hasil investigasi laboratorium keluar dan menunggu surat dari BGN. Soal kapan mulai lagi, kami juga belum tahu karena itu keputusan BGN,” ujarnya, Minggu (1/2/2026).

Menurut Anwar, kelompok yang paling terdampak dari penutupan dapur MBG ini adalah para relawan. Berbeda dengan pegawai yang memiliki status tetap, relawan bekerja dengan sistem harian dan tidak terikat kontrak kerja.

“Kalau pegawai BGN atau SPPG itu pegawai, sementara relawan sifatnya harian. Digaji kalau bekerja, kalau tidak bekerja ya tidak ada penghasilan. Sekarang ini mereka benar-benar terlunta,” kata Anwar.

Ia menambahkan, mayoritas relawan sebelumnya direkrut untuk mendukung konsep multiplier effect program MBG, yakni menyerap tenaga kerja lokal dan membantu menekan angka pengangguran di desa. Namun situasi darurat yang terjadi justru membuat tujuan tersebut berbalik.

Baca Juga :  Mendes Yandri Ajak Kepala Desa Bersiap Bangun Dapur Makan Bergizi Gratis

“Sebelumnya nganggur, lalu bekerja, sekarang karena dapur ditutup mereka kembali menganggur. Ini bukan kondisi yang kami harapkan,” ungkapnya.

Memasuki hari keempat penutupan, dapur MBG SPPG Loji masih belum menunjukkan tanda-tanda akan kembali beroperasi. Seluruh aktivitas produksi dan distribusi lumpuh total hingga pekan ini.

Dampak penutupan dapur juga dirasakan oleh ratusan siswa sekolah dan penerima manfaat posyandu di wilayah Loji–Sangrawayang, Kecamatan Simpenan. Sejak Kamis (29/1/2026), distribusi MBG dihentikan sementara sehingga para penerima manfaat tidak lagi mendapatkan asupan makanan dari program tersebut.

“Kini, puluhan relawan hanya bisa menunggu kepastian, berharap dapur segera dibuka kembali agar roda ekonomi kecil yang sempat berputar lewat MBG bisa kembali berjalan,” tandasnya.

Baca Juga :  BMKG Ungkap Fakta Gempa Sukabumi dan Bogor pada 20–21 September 2025

Sebelumnya, Anwar Syapei menjelaskan, penutupan dapur dilakukan guna kepentingan uji laboratorium terhadap sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan massal pada Rabu (28/1/2026). Selama proses tersebut, dapur disterilkan dan tidak diperkenankan melakukan aktivitas produksi.

“Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian ini. Untuk sementara, kami melakukan evaluasi internal sambil menunggu arahan lebih lanjut dari pusat,” ungkap Anwar.

Sementara itu berdasarkan laporan medis terbaru, kondisi 31 warga yang sempat mengalami keluhan kesehatan kini sudah membaik sepenuhnya.

Senada dengan hal itu, Kepala Puskesmas Simpenan, Ade Setiawan, mengonfirmasi bahwa seluruh korban, termasuk enam orang yang sempat dirujuk ke RSUD Palabuhanratu, sudah diperbolehkan pulang hari ini.

Tag:

Berita Video

Berita Terbaru

Pos-pos Terbaru

error: Content is protected !!